Kamis, 23 Februari 2012

Rekayasa Pantai Dan Muara


PANTAI



A.   DEFINISI PANTAI & GARIS PANTAI

  Ø  Pantai
            Pantai adalah sebuah bentuk geografis yang terdiri dari pasir, dan terdapat di daerah pesisir laut. Daerah pantai menjadi batas antara daratan dan perairan laut. Panjang garis pantai ini diukur mengeliling seluruh pantai yang merupakan daerah teritorial suatu negara.
            Menurut koreksi PBB tahun 2008, Indonesia merupakan negara berpantai terpanjang keempat di dunia setelah Amerika Serikat (AS), Kanada dan Rusia. Panjang garis pantai Indonesia tercatat sebesar 95.181 km.





Gambar. Pantai Manggar

Ø  Garis pantai
            Garis pantai adalah batas pertemuan antara bagian laut dan daratan pada saat terjadi air laut pasang tertinggi. Garis laut dapat berubah karena adanya abrasi, yaitu pengikisan pantai oleh hantaman gelombang laut yang menyebabkan berkurangnya areal daratan.
            Ada beberapa langkah penting yang bisa dilakukan dalam mengamankan garis pantai seperti pemecah gelombang dan pengembangan vegetasi di pantai.
            Untuk mengatasi abrasi/penggerusan garis pantai dari gelombang/ombak dapat digunakan pemecah gelombang yang berfungsi untuk memantulkan kembali energi gelombang. Berbagai cara yang ditempuh untuk memecahkan gelombang diantaranya dengan menggunakan tumpukan tetrapod yang terbuat dari beton pada jarak tertentu dari garis pantai.
            Hutan bakau dapat membantu mengatasi gelombang serta sekaligus bermanfaat untuk kehidupan binatang serta tempat berkembang biak ikan-ikan tertentu. Hutan bakau disebagian besar pantai Utara sudah hilang karena ulah manusia, yang pada gilirannya akan menggerus pantai.
            Terumbu karang juga merupakan pemecah gelombang alami, sehingga sangat perlu untuk dilestarikan dan dikembangkan dalam mempertahankan garis pantai.

B.   KERUSAKAN PANTAI


            Kerusakan lingkungan akan semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Contoh yang sering kita jumpai belakangan ini adalah masalah abrasi pantai. Abrasi pantai ini terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Masalah ini harus segera diatasi karena dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi makhluk hidup, tidak terkecuali manusia.

            Abrasi pantai tidak hanya membuat garis-garis pantai menjadi semakin menyempit, tapi bila dibiarkan begitu saja akibatnya bisa menjadi lebih berbahaya. Seperti kita ketahui, negara kita Indonesia sangat terkenal dengan keindahan pantainya. Setiap tahun banyak wisatawan dari mancanegara berdatangan ke Indonesia untuk menikmati panorama pantainya yang sangat indah. Apabila pantai sudah mengalami abrasi, maka tidak akan ada lagi wisatawan yang datang untuk mengunjunginya. Hal ini tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi perekonomian di Indonesia karena secara otomatis devisa negara dari sektor pariwisata akan mengalami penurunan. Selain itu, sarana pariwisata seperti hotel, restoran, dan juga kafe-kafe yang terdapat di areal pantai juga akan mengalami kerusakan yang akan mengakibatkan kerugian material yang tidak sedikit. Demikian juga dengan pemukiman penduduk yang berada di areal pantai tersebut. Banyak penduduk yang akan kehilangan tempat tinggalnya akibat rumah mereka terkena dampak dari abrasi.
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa dampak dari abrasi sangat berbahaya. Untuk itu kami akan mencoba menjelaskan lebih lanjut mengenai apa itu abrasi, penyebab abrasi, dan bagaimana solusi untuk menanggulanginya. Kami harap apa yang akan kami sampaikan ini dapat memberikan pengetahuan pada masyarakat mengenai abrasi dan menambah rasa kepedulian masyarakat pada lingkungannya.





Ø    Pengertian Abrasi

                        Abrasi merupakan peristiwa terkikisnya alur-alur pantai akibat gerusan air laut. Gerusan ini terjadi karena permukaan air laut mengalami peningkatan. Naiknya permukaan air laut ini disebabkan mencairnya es di daerah kutub akibat pemanasan global.
Ø    Penyebab Abrasi

            Abrasi disebabkan oleh naiknya permukaan air laut diseluruh dunia karena mencairnya lapisan es di daerah kutub bumi. Mencairnya lapisan es ini merupakan dampak dari pemanasan global yang terjadi belakangan ini. Seperti yang kita ketahui,pemanasan global terjadi karena gas-gas CO2 yang berasal dari asap pabrik maupun dari gas buangan kendaraan bermotor menghalangi keluarnya gelombang panas dari matahari yang dipantulkan oleh bumi, sehingga panas tersebut akan tetap terperangkap di dalam atmosfer bumi dan mengakibatkan suhu di permukaan bumi meningkat. Suhu di kutub juga akan meningkat dan membuat es di kutub mencair, air lelehan es itu mengakibatkan permukaan air di seluruh dunia akan mengalami peningkatan dan akan menggerus daerah yang permukaannya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya abrasi sangat erat kaitannya dengan pencemaran lingkungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, garis pantai di beberapa daerah di Indonesia mengalami penyempitan yang cukup memprihatinkan. Seperti yang terjadi di daerah pesisir pantai wilayah kabupaten Indramayu. Abrasi yang terjadi mampu menenggelamkan daratan antara 2 hingga 10 meter pertahun dan sekarang dari panjang pantai 114 kilometer telah tergerus 50 kilometer. Dari 10 kecamatan yang memiliki kawasan pantai, hanya satu wilayah kecamatan yakni kecamatan Centigi yang hampir tidak memiliki persoalan abrasi. Hal ini karena di wilayah kecamatan Centigi kawasan hutan mangrove yang ada masih mampu melindungi kawasan pantai dari abrasi.
 Tingkat abrasi yang cukup tinggi juga terjadi di kecamatan Pedes dan Cibuaya Kabupaten Karawang. Meskipun abrasi pantai dinilai belum pada kondisi yang membahayakan keselamatan warga setempat, namun bila hal itu dibiarkan berlangsung, dikhawatirkan dapat menghambat pengembangan potensi kelautan di kabupaten Karawang secara keseluruhan, baik pengembangan hasil produksi perikanan maupun pemanfaatan sumber daya kelautan lainnya. Abrasi yang terjadi di kabupaten Indramayu dan kabupaten Karawang merupakan contoh kasus abrasi yang terjadi di Indonesia. Selain di kedua tempat tadi, masih banyak daerah lain yang juga mengalami abrasi dengan tingkat yang tergolong parah. Apabila hal ini tidak ditindaklanjuti secara serius, maka dikhawatirkan dalam waktu yang tidak lama beberapa pulau yang permukaannya rendah akan tenggelam.Selain abrasi, masalah yang terjadi di daerah pesisir pantai adalah masalah pencemaran lingkungan pantai. Beberapa pantai mengalami pencemaran yang cukup parah seperti kasus yang terjadi di daerah Balikpapan, dimana pada tahun 2004 tercemar oleh limbah minyak. Tumpukan kerak minyak atau sludge berwarna hitam yang mirip dengan gumpalan aspal tersebut beratnya diperkirakan mencapai 300 ton. Contoh lain adalah kasus yang terjadi di sekitar teluk Jakarta. Berbagai jenis limbah dan ribuan ton sampah yang mengalir melalui 13 kali di Jakarta berdampak pada kerusakan Pantai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Pada tahun 2006, kerusakan terumbu karang dan ekosistem taman nasional itu diperkirakan mencapai 75 kilometer. Tahun lalu saja telah terjadi kerusakan serius sepanjang 40 kilometer. Kali Ciliwung, Banjir Kanal Barat (BKB), Kali Sunter, dan Kali Pesanggrahan merupakan penyumbang pencemaran terbesar ke Teluk Jakarta. Setiap hari Kali Ciliwung, BKB, dan Kali Sunter mengalirkan sampah yang berton-ton banyaknya. Sampah berbagai jenis itu mengalir ke Teluk Jakarta, dan sampai ke Pantai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Kondisi ini memerlukan penanganan segera. Terkait dengan itu, pencemaran teluk Jakarta harus segera diatasi, terutama dengan melakukan pengurangan limbah sampah di sungai.

            Pencemaran yang terjadi di pesisir pantai merupakan sesuatu yang sangat merugikan bagi manusia. Selain itu, sebagian besar objek wisata di Indonesia merupakan wisata pantai. Keindahan panorama pantai membuat wisatawan dari mancanegara berdatangan ke Indonesia. Hal ini seharusnya membuat pemerintah lebih mempedulikan kebersihan dan keasrian pantai, karena apabila keadaan pantai tidak bersih dan dipenuhi sampah, wisatawan tidak akan mau lagi mengunjungi pantai di Indonesia yang akibatnya dapat mengurangi devisa negara.

            Rusaknya lingkungan pantai juga dapat merusak ekosistem yang ada disana. Biota yang hidup di daerah pantai seperti terumbu karang dan ikan-ikan kecil akan mati bila tingkat pencemarannya tinggi. Untuk itu diperlukan upaya dari pemerintah maupun masyarakat untuk menjaga keindahan dan keasrian pantai.
Penyelesaian Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat untuk mengatasi masalah abrasi dan pencemaran pantai ini. Untuk mengatasi masalah abrasi di Indonesia ini pemerintah secara bertahap melakukan pembangunan alat pemecah ombak serta penghijauan hutan mangrove di sekitar pantai yang terkena abrasi tersebut. Dalam mengatasi masalah abrasi ini, tentu ada saja hambatan-hambatan dan juga kesulitan-kesulitan yanag akan dihadapi, misalnya dalam pembangunan alat pemecah ombak ini diperlukan biaya yang sangat mahal dan juga wilayah tempat pembangunannya sangat luas, sehingga untuk membangun alat ini di seluruh pantai yang terkena abrasi akan memerlukan waktu yang sangat lama dan juga biaya yang sangat mahal. Upaya penanaman tanaman bakau di pinggir pantai juga banyak hambatannya. Tanaman bakau hanya dapat tumbuh pada tanah gambut yang berlumpur. Hal ini akan menjadi sangat sulit karena sebagian besar pantai di Indonesia merupakan perairan yang dasarnya tertutupi oleh pasir, seperti kita ketahui bahwa tanaman bakau tidak dapat tumbuh pada daerah berpasir. Meskipun sangat sulit, tetapi usaha untuk mangatasi abrasi ini harus terus dilakukan. Jika masalah abrasi ini tidak segera ditanggulangi, maka bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan luas pulau-pulau di Indonesia banyak yang akan berkurang. Agar upaya ini dapat berjalan dengan lebih baik, maka peranan dari semua elemen masyarakat sangat diperlukan. Pemerintah tidak akan dapat mengatasinya tanpa partisipasi dari masyarakat. Apabila alat pemecah ombak berhasil dibangun dan hutan bakau atau hutan mangrove berhasil ditanam, maka dampak abrasi tentu akan dapat dikurangi meskipun tidak sampai 100%. Masalah pencemaran pantai juga harus diatasi denga sangat serius karena dapat merusak keindahan dan keasrian pantai. Untuk megatasi permasalahan ini kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan harus ditingkatkan. Selain itu peraturan untuk tidak merusak lingkungan harus dibuat dan menindak dengan tegas bagi siapa pun yang melanggarnya. Sekarang ini, di beberapa pantai masih banyak ditemui sampah-sampah yang berserakan. Selain itu, limbah pabrik yang beracun banyak yang dialirkan ke sungai yang kemudian mengalir ke laut. Hal ini dapat merusak ekosistem laut, dan juga dapat membunuh beberapa biota laut. Pemerintah seharusnya menghimbau agar seluruh pabrik-pabrik tersebut agar membuang limbahnya setelah dinetralisasi terlebih dahulu.

CONTOH PANTAI YANG RUSAK AKIBAT ABRASI DI INDONESIA

Pantai di Indramayu Rusak Akibat Abrasi

            Abrasi pantai akibat kerusakan ekosistem di kawasan pesisir pantai utara Indramayu cukup parah dan merata. Kepala Kantor Lingkungan Hidup Indramayu Aep Surahman mengungkap, bila kondisi tidak segera ditangani, sejumlah infrastruktur, termasuk jalur lintasan utama pantura Jawa bakal terancam.
            Sepanjang 114 kilometer daerah tersebut mengalami kerusakan kritis. Pesisir pantai telah tergerus sejauh 45 km dari garis pantai. Pihak Pemkab Indramayu dan Pemprov Jabar telah terus berupaya dengan melakukan penanaman bakau serta membangun pemecah gelombang di sejumlah wilayah. Namun bangunan pemecah gelombang ini pun belum optimal untuk mengurangi abrasi. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu Abdur Rosyid Hakim menegaskan bahwa pembangunan pemecah gelombang di lokasi yang kritis menjadi prioritas pada tahun ini.

            Aep menyebutkan bahwa solusi terbaik adalah penanaman vegetasi mangrove, seperti bakau. "Persoalannya banyak warga belum sadar akan manfaat vegetasi itu untuk penahan abrasi," ujarnya. Ia merujuk pada contoh, area hutan mangrove seluas 3 hektar di Desa Cemara Wetan, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, sekarang habis ditebangi. Hutan itu mestinya dikelola oleh Perum Perhutani. Juga rawa-rawa air payau di beberapa lokasi sudah gundul.
            Selain mengalami abrasi, puluhan hektar hutan bakau di kawasan pantai Indramayu tersebut kini sebagian besar beralih fungsi menjadi tambak-tambak udang dan bandeng. Bahkan masyarakat pengelola tambak merasa dirugikan dengan keberadaan mangrove di sekitar tambak, yang dianggap menggangu luasan tambak mereka itu.
            Aktivis Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu Iing Rohimin mengatakan, hutan pantai yang selama ini menjadi jalur hijau, sebagian hanya tinggal onggokan tonggak pohon bakau di tengah area tambak.

Pantai Pamekasan Makin Parah Akibat Abrasi


           




Dampak yang diakibatkan oleh abrasi ini sangat besar. Garis pantai akan semakin menyempit dan apabila tidak diatasi lama kelamaan daerah-daerah yang permukaannya rendah akan tenggelam. Pantai yang indah dan menjadi tujuan wisata menjadi rusak. Pemukiman warga dan tambak tergerus hingga menjadi laut. Tidak sedikit warga di pesisir pantai yang telah direlokasi gara-gara abrasi pantai ini. Abrasi pantai juga berpotensi menenggelamkan beberapa pulau kecil di perairan Indonesia. Abrasi pantai diakibatkan oleh beberapa faktor yang disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu Peningkatan permukaan air laut yang diakibatkan oleh mencairnya es di daerah kutub sebagai akibat pemanasan global. Hilangnya vegetasi mangrove (hutan bakau) di pesisir pantai. Sebagaimana diketahui, mangrove yang ditanam di pinggiran pantai, akar-akarnya mampu menahan ombak sehingga menghambat terjadinya pengikisan pantai. Sayangnya hutan bakau ini banyak yang telah dirusak oleh manusia. Selain itu dapat juga diakibatkan oleh faktor bencana alam seperti tsunami. Rusaknya bibir pantai di perairan Indonesia akibat abrasi itu tidak terlepas dari geologi, kekuatan ombak laut serta pusaran angin. Serta adanya pasang surut dan gaya dorong gelombang-arus datang air laut, pasti menimbulkan terjadinya tumbukan dengan dinding pantai yang diikuti kemudian oleh terjadinya tarikan gelombang-arus balik yang semuanya terjadi terus menerus tiada henti pada daerah pantai yang bertanah lunak atau tanah berpasir atau batuan berpasir dan sejenisnya, pada daerah pantai terbuka lepas menghadap laut, serta karena biasanya terjadi adanya pergerakan angin laut dengan kecepatan cukup tinggi dan sebaliknya, maka dapat dipastikan bahwa potensi terjadinya proses abrasi sudah berlangsung.  Gangguan akibat adanya kegiatan penambangan pasir disepanjang pesisir bagian dalam dan adanya penebangan pohon bakau disekitar daerah tersebut yang bersifat merusak, dipastikan dapat turut memicu- memperparah terjadinya abrasi, yang  jika tidak ditangani secara tepat dan cepat, proses abrasi akan terus berlanjut sampai menimbulkan kerusakan yang cukup signifikan. Erosi pantai (abrasi) saat ini sudah sering terjadi terutama didaerah pantai yang tidak terlindungai baik oleh vegetasi maupun pola hidup masyarakat yang tinggal di sekitar pantai. Di desa Tlontoraja puluhan rumah rusak karena abrasi yang semakin parah. Penggusuran pantai oleh air laut diduga terjadi akibat penambangan pasir liar di Pantai Desa Batu Kerbuy. Tangkis laut yang ada di desa Tlontoraja sudah hancur dan tidak bisa menahan air gelombang laut,. Akibatnya saat pasang air laut menghantam rumah-rumah warga dekat pantai, dan sekitar 25 KK mengungsi. Masyarakat desa Tlontoraja sangat berharap pemerintah tegas menyetop penambang pasir liar. Adanya penambangan pasir liar tersebut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi namun pada kenyataannya banyak dampak yang sangat merugikan bagi masyarakat bibir pantai akibat dari adanya penambangan liar tersebut. Bukan hanya masyarkat desa Tlontoraja yang rumahnya terhantam oleh air laut pada saat air pasang namun tangkis laut yang rusak karena pasir di sekitar tempat tersebut dikeruk juga menimbulkan dampak yang cukup besar bagi desa lain ( Desa Batu Kerbuy ). Abrasi yang terjadi di desa Tlontoraja diakibatkan oleh faktor manusia seperti kasus penambangan liat sangat berperan banyak terhadap abrasi pantai, baik di daerah tempat penambangan pasir maupun di daerah sekitarnya karena terkurasnya pasir laut akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan arah arus laut yang menghantam pantai. Dalam skala waktu besar, jangka panjang, erosi pantai berlangsung terus menerus sampai kondisi keseimbangan konfigurasi garis pantai tercapai atau keseimbangan berubah karena perubahan kondisi lingkungan dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam jangka pendek, temporer, erosi pantai terjadi pada saat musim angin tertentu berlaku, dan berhenti ketika musim berganti.
            Dalam masalah abrasi yang telah merusak warga yang mengakibatkan 25 KK mengungsi perlu ditangani bersama antara instansi-instansi terkait guna mencegah erosi yang berkelanjutan dan jika mungkin mengembalikan atau merestorasi fungsi pantai sebagai kawasan umum, wisata, dan prasarana masyarakat. Dalam hal ini pemerintah memiliki peranan sangat besar yakni dalam usaha membangun pengaman pantai. Pengaman pantai bertujuan untuk mencegah erosi pantai dan penggenangan daerah pantai akibat limpasan gelombang (overtopping). Berdasarkan strukturnya pengaman pantai dibedakan menjadi dua, yaitu pengamanan “lunak” (soft protection) dan pengamanan keras (hard protection).

Abrasi di Pantai Kelan, Pemecah Gelombang Hancur









Pemecah gelombang yang hancur akibat abrasi di Pantai Kelan, Badung.
            Badung (beritadewata.com) - Abrasi di Pantai Kelan, Badung kian parah. Abrasi diduga akibat penambahan landasan pacu bandara Ngurah Rai Bali yang dilakukan sejak beberapa tahun silam. Akibatnya, baru dirasakan belakangan. Hal ini tampak dari hancurnya pemecah gelombang yang dipasang di sebelah barat Pantai Kelan. "Memang dulu waktu saya masih kecil, daratan bisa menjorok ke dalam hingga 25 meter, sekarang sudah tidak ada lagi," ujar ketua kelompok nelayan Saman Jaya, Kelan, Nyoman Pulir Sabtu (22/10/2011).


            Menurut Nyoman Pulir, abrasi diduga akibat penambahan landasan pacu bandara Ngurah Rai yang dilakukan PT Angkasa Pura. Tidak saja ke Pantai Jerman Kuta yang abrasinya sangat keras, tetapi juga ke arah selatan yakni Pantai Kelan. Pemecah gelombang yang sempat dipasang, sudah hancur dan sampai saat ini tidak ada upaya penanganan lebih lanjut.

            Karenanya, Pulir yang menghimpun 30 orang nelayan Kelan, berharap, pemerintah segera turun tangan. Jika tidak, dikhawatirkan kondisi pantai akan bertahap hilang sehingga para nelayan kehilangan lokasi untuk menambatkan perahunya.

            Apalagi, tambah Pulir, sekarang ini Pantai Kelan dicanangkan sebagai kampung seafood bersama Kedonganan untuk menarik minat wisatawan. Dengan demikian, diharapkan citra sebagai kampung seafood akan rusak akibat penanganan abrasi yang kurang baik.


Abrasi Ancam Eksotisme Pantai Manggar
            Balikpapan, wisatanews - Pesona dan eksotisme destinasi wisata populer di Kota Balikpapan Kalimantan Timur kini mulai terancam terkena Abrasi. Ancaman abrasi bagi destinasi wisata yang terletak 25 Km ke arah utara Pusat Kota Balikpapan terlihat dengan air pasang tertinggi kini mencapai batas tumbuh pepohonan yang tumbuh di sepanjang garis pantai itu.

            Bagian Pantai yang terkena Abrasi yang paling parah sementara ini di muara sungai. Muara sungai ini tidak jauh dari menara balawisata hingga bisa terlihat jelas erosi yang disebabkan angin dan air laut tersebut. Pohon dan pandan di garis pasang tertinggi bahkan sudah roboh dan miring karena pasir pijakannya tergerus air laut.

            Pada bagian-bagian tertentu, di pantai yang semula landai mulai terbentuk tebing-tebing kecil dengan ketinggian antara 30 cm hingga 1 meter. Namun demikian, di beberapa tempat di mana tumbuh semak kangkung laut atau Ipomea pescaprae, terjangan air laut agak tertahan.

            Menurut Pengelola Pantai sepanjang 1500 Meter ini, pihaknya belum bisa berbuat banyak untuk mengantisipasi abrasi itu, pasalnya pengelola masih terhambat keterbatasan anggaran dari Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan. Selain itu, keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengelola Pantai wisata milik Pemerintah Daerah setempat, hingga ancaman abrasi itu belum bisa ditangani secepaatnya.

            Kondisi sangat disayangkan jika ancaman abrasi ini tidak secepatnya diantisipasi oleh Pemerintah Daerah setempat, mengingat Pantai Manggar adalah salah satu destinasi wisata favorit di Kota Balikpapan dengan segala pesona dan eksotisme yang dimiliki oleh Pantai ini. Antisipasi secepatnya perlu dilakukan jika tidak ingin Pantai Manggar akan bernasib sama dengan Pantai Mayang di Kota Gresik yang telah rusak kondisinya, dengan akibat yang sama, yaitu abrasi. Pantai Mayang yang dulunya indah, sekarang sudah tidak bisa lagi dinikmati karena kondisi sudah rusak parah akibat abrasi dan tidak segera diantisipasi.

            Pantai Manggar Segara Sari sudah sangat populer dan menjadi salah satu tujuan wisata warga Kaltim. Setiap hari, terutama di hari libur, warga yang berkunjung datang dari Balikpapan, Samarinda, Tenggarong, bahkan juga dari Bontang atau Sangatta yang jauhnya hingga 250 km lebih dari Manggar. Jika hari libur, jumlah pengunjung yang memadati Pantai ini mencapai angka tujuh ribu orang.

            Di pantai yang eksotis ini, Anda bisa menikmati keindahan suasana pantai yang teduh sembari menikmati deburan ombak yang datang silih berganti. Suasana ini membuat Anda bisa melepaskan segala penat dari segala aktifitas. Jika sedang tidak ingin berenang, Anda pun bisa menikmati mengelilingi Pantai Manggar menaiki Banana Boat yang memang menjadi idola pengunjung.

            Untuk itu, Pemerintah Daerah setempat harus segera memikirkan cara untuk mengantisipasi ancaman abrasi ini jika tidak ingin kehilangan eksotisme Pantai ini dan kehilangan tempat untuk melaksanakan berbagai event kebaharian di Kota Balikpapan.






Kerusakan Pantai Utara Tangerang Ancam Penduduk
            Kerusakan parah pesisir Pantai Utara Tangerang, Banten, karena abrasi diakui Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Tangerang, Odang Masduki.

            Dia melihat, pengikisan pantai oleh tenaga gelombang dan arus laut yang merusak tanah daratan itu kini kini telah mengancam kehidupan masyarakat yang bermukim di pinggir pantai tersebut. ”Kondisi lahan yang tergerus abrasi sudah sangat parah,” kata Odang, Selasa (19/1).

            Odang mengungkapkan, abrasi di Pantai Utara Tangerang tiap tahun terus bertambah dan meluas sehingga banyak lahan dan rumah penduduk berubah menjadi lautan. ”Banyak sertifikat miliki warga di atas laut,” katanya. Sebutan itu untuk rumah dan tanah milik warga yang telah terendam air laut.

            Dia mengaku sangat prihatin dengan kondisi pantai dan nasib warga yang kini masih bertahan dibibir pantai tersebut. Berdasarkan data terbaru Badan Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Tangerang, abrasi kini telah mengerus 13,8 kilometer dari 51 kilometer total panjang pantai di Kabupaten Tangerang. Luas lahan kritis akibat erosi pantai itu kini mencapai 25 hektar sepadan pantai yang memanjang dari pantai Dadap, Kosambi, hingga pesisr Pantai Kronjo.


            Menurut Odang, tiap tahun dianggarkan Rp 300 juta dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah untuk program penanaman hutan bakau dan pembuatan break water (pemecah gelombang) yang hanya mengatasi dua hektare lahan yang telah rusak.


            Odang mengakui jika penanganan abrasi di Kabupaten Tangerang selama ini hanya bisa dilakukan secara parsial. Hal ini dilakukan karena terbatasnya anggaran pemerintah daerah. ”Masalah abrasi semestinya harus dilakukan secara konfrehensif dan menyeluruh oleh pemerintah provinsi dan pemerintah pusat,” katanya.

            Tempo sempat memantau Pantai Karang Serang, Kecamatan Sukadiri, Tangerang, melihat sepanjang bibir pantai sudah terlihat rusak karena tergerus ombak. Abrasi terus meluas dan memanjang hingga menghabiskan rumah penduduk.

            Saat ini, jarak lautan dengan rumah penduduk dan jalan utama desa itu hanya sekitar lima meter saja. Sebagian bibir pantai yang rusak sudah dibangun break water yang terdiri dari susunan batu.


            Angin kencang dan gelombang yang tinggi semakin menyulitkan masyarakat pesisir yang bertahan hidup dari menjala ikan dan berdagang kecil-kecilan. Seringkali, rumah penduduk yang hanya berjarak tiga meter dari bibir pantai roboh diterjang angin dan ombak. ”Saya sudah berapakali pindah, tadinya rumah saya berada di sana,” ujar Nafsiah, 50 tahun, warga setempat sambil menunjuk tumpukan batu yang ada di tengah laut sekitar 15 meter dari pinggir pantai.


            Rumah yang ditempati Nafsiah bersama suami dan tiga anaknya adalah sebuah bangunan semi permanen yang dibuat dari kayu dan bambu. Tempat itu dia jadikan rumah sekaligus tempat usaha.Sementara suaminya, bekerja sebagai nelayan. ”Saya sudah menetap di sini sejak 1981,” katanya. Sejak saat itu, Nafsiah menuturkan, ia sudah puluhan kali pindah rumah karena lahan tempat tinggalnya selalu tergerus air laut.



C.    PENYELESAIAAN PERMASALAHAN PANTAI 

Dalam hal ini pemerintah memiliki peranan sangat besar yakni dalam usaha membangun pengaman pantai. Pengaman pantai bertujuan untuk mencegah erosi pantai dan penggenangan daerah pantai akibat limpasan gelombang (overtopping). Berdasarkan strukturnya pengaman pantai dibedakan menjadi dua, yaitu pengamanan “lunak” (soft protection) dan pengamanan keras (hard protection).
Pengamanan lunak dilakukan dengan cara :

·         Pengisian Pasir. Pengisian pasir bertujuan untuk mengganti pasir yang hilang akibat erosi dan memberikan perlindungan pantai terhadap erosi dalam bentuk system tanggul pasir. Hal yang harus diperhatikan adalah lokasi pasir harus memiliki kedalaman yang cukup sehingga pertambahan kedalaman akibat penggalian pasir tidak mempengaruhi pola gelombang dan arus yang pada gilirannya akan mengakibatkan erosi ke pantai-pantai sekitarnya.
·         Hutan Bakau ( Mangrove Forest ). Hutan bakau merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Fungsi dari hutan bakau selain sebagai tempat wisata dan penghasil kayu adalah sebagai peredam gelombang dan angin badai, pelindung erosi, penahan lumpur dan penangkap sediment. Sebaiknya pelestarian hutan bakau tidak hanya dilakukan pada saat penanamannya saja, namun juga pada saat pemeliharaannya agar tanaman bakau dapat tumbuh dengan baik karena pada hakekatnya tanaman bakau yang baru ditanam termasuk sulit untuk tumbuh. Masyarakat harus mengambil peran dalam mengatasi masalah abrasi dan pencemaran pantai, karena usaha dari pemerintah saja tidak cukup berarti tanpa bantuan dari masyarakat.Ini termasuk penanaman dan pemeliharaan vegetasi pelindung pantai, seperti mangrove dan terumbu karang.




Pengamanan Keras dilakukan dengan cara :

·         Revetment. Revetment adalah stuktur pelindung pantai yang dibuat sejajar pantai dan biasanya memiliki permukaan miring. Strukturnya biasa terdiri beton, timbunan batu, karung pasir, dan beronjong (gabion). Karena permukaannya terdiri dari timbunan batu/blok beton dengan rongga-rongga diantaranya, maka revetment lebih efektif untuk meredam energi gelombang.
·         Seawall. Seawall hampir serupa dengn revetment, yaitu dibuat sejajar pantai tapi seawall memiliki dinding relative tegak atau lengkung. Seawall pada umumnya dibuat dari konstruksi padat seperti beton, turap baja/kayu, pasangan batu atau pipa beton sehingga seawall tidak meredam energi gelombang, tetapi gelombang yang memukul permukaan seawall akan dipantulkan kembali dan menyebabkan gerusan pada bagian tumitnya.
·         Groin ( groyne ). Groin adalah struktur pengaman pantai yang dibangun menjorok relative tegak lurus terhadap arah pantai. Bahan konstruksinya umumnya kayu, baja, beton (pipa beton), dan batu.
·         Pemecah Gelombang Sejajar Pantai. Pemecah gelombang sejajar pantai ini dibuat terpisah ke arah lepas pantai, tetapi masih di dalam zona gelombang pecah (breaking zone). Bagian sisi luar pemecah gelombang memberikan perlindungan dengan meredam energi gelombang sehingga gelombang dan arus di belakangnya dapat dikurangi. Pantai di belakang struktur akan stabil dengan terbentuknya endapan sediment.
·         Stabilisasi. Stabilisasi pantai dilakukan dengan membuat bangunan pengarah sediment seperti tanjung buatan, pemecah gelombang sejajar pantai, dan karang buatan yang dikombinasikan dengan pengisian pasir. Metoda ini dilkukan apabila suatu kawasan pantai terdapat defisit sediment yang sangat besar sehingga dipandang perlu untuk mengembalikan kawasan pantai yang hilang akibat erosi.
            Pada saat ini, konsep pengamanan di atas akan dan sedang diterapkan, di Indonesia. Dalam hal ini kita sebagai Warga Negara yang baik hendaknya ikut berperan dalam proses pengamanan pantai tersebut, yaitu dengan ikut melestarikan ekosistem laut beserta isinya, melakukan pembangunan sesuai peraturan yang berlaku agar tidak melewati garis pantai, serta tidak melakukan penambangan pasir atau perusakan karang. Jika hal itu dapat kita wujudkan, alhasil abrasi tidak menjadi masalah besar lagi.
            Penanganan abrasi pantai memang sulit. Solusi di atas memiliki resiko dan kekurangan masing-masing. Pemasangan alat pemecah ombak tentunya memerlukan biaya yang sangat besar. Sedangkan penanaman vegetasi mangrove pun tidak dapat dilakukan disemua jenis pantai karena mangrove hanya tumbuh di daerah yang berlumpur. Tetapi meskipun sangat sulit, tetapi usaha untuk mangatasi abrasi ini harus terus dilakukan. Jika masalah abrasi ini tidak segera ditanggulangi, maka bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan luas daratan banyak yang akan berkurang. Harapannya pihak pemerintah khususnya pemerintah Kabupaten Pamekasan segera melakukan penanganan yang konkrit dengan melakukan beberapa penanganan seperti cara penanganan di atas agar abrasi pantai tidak semakin parah dan para masyarakat bibir pantai merasa nyaman dan aman.

CONTOH PENYELESAIAAN PANTAI YANG RUSAK AKIBAT ABRASI DI INDONESIA

Konservasi Lahan Pantai, Solusi Indah untuk Parangtritis


Kawasan Pantai saat ini mengalami berbagai tekanan yang dapat mengancam kelestarian ekosistem. Kegiatan yang menyebabkan tekanan terhadap kawasan pantai antara lain: (a) Pengembangan pemukimam (b) Pembangunan fasilitas rekreasi (c) Pemanfaatan lahan pasang surut untuk kepentingan budidaya pertambakan yang terkadang tidak memperhatikan ekosistem itu sendiri. Di wilayah hulu juga bisa memperburuk kondisi kawasan pantai dengan masukan bahan padatan sedimen (erosi) yang merupakan salah satu faktor penyebab pendangkalan pantai dan kerusakan lingkungan.
Konservasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk melestarikan atau melindungi alam. Kawasan konservasi mempunyai karakteristik: keaslian atau keunikan, habitat/ruang hidup bagi satu atau beberapa spesies (flora dan fauna) khusus: endemik, langka, atau terancam punah. Jenis-jenis ini biasanya dilindungi oleh peraturan perundang-undangan, landscape atau ciri geofisik yang bernilai estetik/scientik, serta fungsi perlindungan hidro-orologi.
Pantai adalah tempat bertemunya daratan dan laut. Pada waktu tertentu, permukaan laut naik dan pada waktu tertentu permukaan laut turun (pasang surut). Menurut koreksi PBB tahun 2008, Indonesia merupakan negara berpantai terpanjang keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Kanada dan Rusia. Panjang garis pantai Indonesia tercatat sekitar 95.181 km.
Garis laut dapat berubah karena adanya abrasi, yaitu pengikisan pantai oleh hantaman gelombang laut yang menyebabkan berkurangnya areal daratan. Banyak faktor yang berpengatuh terhadap perubahan perubahan-perubahan konfigurasi kawasan pantai antara lain pasang surut, aktivitas glombang, kekerasan batuan pantai, biota darat –laut, iklim, manusia.
Kekayaan alam Indonesia yang melimpah kurang sepadan dengan kesediaan para warga untuk menjaganya. Banyak pemukiman di sekitar pantai yang didirikan tanpa ijin, yang kebanyakan digunakan untuk kepentingan ekonomi. Ketidaktahuan masyarakat tentang pentingnya konservasi lahan pantai merupakan salah satu faktor penyebab kerusakan ekosistem pantai di beberapa wilayah di Indonesia. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipengaruhi oleh gejala alami dan tindakan manusia. Tindakan manusia yang mendorong terjadinya abrasi adalah pengambilan batu dan pasir di pesisir pantai sebagai bahan bangunan. Selain itu penebangan pohon-pohon pada hutan pantai atau hutan mangrove memacu terjadinya abrasi pantai lebih cepat.
Kawasan Pantai Parangtritis
Pantai Parangtritis terletak di ujung selatan Yogyakarta, yang berjarak kurang lebih 25 km dari kota Yogyakarta, jika dijangkau dengan kendaraan bermotor memakan waktu antara 45 menit sampai 1 jam perjalanan. Pantai Parangtritis merupakan salah satu pantai yang dikatakan “beruntung.” Setidaknya sudah ada penahan alami dari bahaya abrasi dengan adanya sand dunes atau sering disebut gumuk pasir di sepanjang Pantai Depok hingga ke Pantai Parang Kusumo. Gumuk pasir merupakan fenomena alam yang langka dan satu-satunya di Asia Tenggara, berupa gundukan-gundukan pasir yang membentuk bukit-bukit akibat terbawa oleh hembusan angin. Gumuk pasir ini terjadi karena material vulkanik Gunung Merapi yang terbawa arus aliran Sungai Progo dan Sungai Opak yang diendapkan di pantai. Endapan pasir ini terpukul gelombang ke darat dan pada saat air laut surut endapan pasir tertiup angin kencang dari laut sehingga lama kelamaan terbentuklah bukit pasir. Proses terbetuknya sand dunes memakan waktu ribuan tahu sampai akhirnya terbentuk gumuk pasir yang sekarang ini. Bentuk dari gumuk pasir ini bermacam-macam, ada yang berbentuk melintang (tranverse), sabit (barchans), parabola (parabolic), dan memanjang (longitudinal dune).
Dulunya masyarakat tidak terlalu memperhatikan gumuk pasir tersebut, namun lambat laun masyarakat menjadi sadar bahwa gumuk pasir yang ada di sekitar pemukimannya adalah warisan dunia yang harus dijaga kelestariannya, setidaknya untuk penahan abrasi pantai. Terlepas dari itu, fenomena gumuk pasir juga sering dijadikan tempat memotret pre wedding, syuting video klip, tempat penelitian bagi para akademis. Dibangun pula Museum Geospasial dan laboratorium untuk kegiatan dan rekreasi yang dilengkapi dengan beberapa instrumen dan pustaka tentang geospasial dan ilmu kebumian. Para pecinta alam seringkali melakukan petualangannya di area sand dunes tersebut. Selain beberapa manfaat tersebut, gumuk pasir sering dijadikan tempat latihan manasik haji bagi calon jamaah haji.
Ancaman Kerusakan Pantai Parangtritis
Pasona Pantai Parangtritis dengan gumuk pasirnya bukan tidak mungkin mengalami kerusakan-kerusakan yang tak disadari oleh manusia dan bahkan oleh pemerintahpun jika tidak mendapatkan perhatian yang serius. Ancaman kerusakan itu antara lain 1) dilihat dari proses terjadinya material pasir itu berasal dari Gunung Merapi yang dibawa aliran sungai Opak dan sungai Progo, sementara sekarang ini pasir tersebut sudah dihadang oleh penambang pasir di sepanjang kedua sungai tersebut, sehingga pasokan pasirnya berkurang atau bahkan “habis” sehingga pembentukan gumuk pasir akan terhenti. 2) Pengambilan atau penambangan pasir pantai untuk keperluan “uruk” pondasi bangunan yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. 3) pemukiman atau tempat usaha oleh masyarakat atau pendatang dengan dalih ekonomi. 4) dimungkinkan adanya rayuan pengusaha yang akan membangun hotel, fasilitas lain yang menggunakan dalih pengembangan obyek wisata yang muara akhirnya ke kemakmuran masyarakat. 5) polusi sampah plastik bekas botol minuman, bungkus makanan dan sampah lain dari para pengunjung obyek wisata.
Usaha Perlindungan Kawasan Pantai Parangtritis
Banyaknya ancaman terhadap kelestarian pantai ini mendorong kita untuk segera melakukan perlindungan kelestarian alam Pantai Parangtritis. Upaya perlindungan dapat dilakukan dengan: 1) Memberi sanksi yang tegas terhadap para penambang pasir liar yang ada di sepanjang kawasan Pantai Parangtritis, 2) Memberi pengarahan dan penyuluhan akan pentingnya sand dunes tersebut bagi ekosistem Pantai Parangtritis serta pentingnya konservasi lahan pantai, 3) Relokasi lapak pedagang atau bangunan lain di sepanjang pantai ke tempat lain agar tidak mengganggu pemandangan keindahan pantai, serta tidak merusak ekosistem pantai, 4) Tidak membuang sampah di pantai. Sampah merupakan masalah pencemaran lingkungan hidup yang juga semakin serius. Berbagai protokol telah disepakati untuk mencegah, mengatasi dan mengendalikan pencemaran lingkungan, namun protokol sebagai kesepakatan politik tersebut tidaklah membawa hasil yang memuaskan. Oleh karenanya, untuk meminimalisir adanya sampah yang berserakan di mana-mana, perlu adanya penyediaan tempat sampah di kawasan pantai.
Kelestarian ekosistem pantai harus tetap dijaga. Pantai Parangtritis sebagai satu-satunya pantai dengan keelokan sand dunes haruslah diberi perhatian lebih sebagai salah satu aset daerah bahkan negara, yang juga sangat berguna untuk penahan abrasi secara alami. Perlu adanya kerjasama dari masyarakat sekitar, serta pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk bersama-sama melakukan perlindungan terhadap Pantai Parangtritis ini.

Pantai Losari

            Pantai Losari adalah sebuah pantai yang terletak di sebelah barat kota Makassar. Pantai ini menjadi tempat bagi warga Makassar untuk menghabiskan waktu pada pagi, sore dan malam hari menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat indah.
            Dahulu, pantai ini dikenal dengan pusat makanan laut dan ikan bakar di malam hari (karena para penjual dan pedagang hanya beroperasi pada malam hari), serta disebut-sebut sebagai warung terpanjang di dunia (karena warung-warung tenda berjejer di sepanjang pantai yang panjangnya kurang lebih satu kilometer).
            Salah satu penganan khas Makassar yang dijajak di warung-warung tenda itu adalah pisang epe (pisang mentah yang dibakar, kemudian dibuat pipih, dan dicampur dengan air gula merah. Paling enak dimakan saat masih hangat).
            Saat ini warung-warung tenda yang menjajakan makanan laut tersebut telah dipindahkan pada sebuah tempat di depan rumah jabatan Walikota Makassar yang juga masih berada di sekitar Pantai Losari.
Pada sore hari, semua orang bisa menikmati proses atau detik-detik tenggelamnya matahari sunset..
Gambar pantai losari:




























D.   KESIMPULAN

            Ada beberapa solusi sebagai berikut dalam pencegahan maupun penyelesaiaan masalah abrasi pantai yaitu:
1.    Masyarakat harus mengambil peran dalam mengatasi masalah abrasi dan pencemaran pantai, karena usaha dari pemerintah saja tidak cukup berarti tanpa bantuan dari masyarakat.Ini termasuk penanaman dan pemeliharaan vegetasi pelindung pantai, seperti mangrove dan terumbu karang

2.     Pemerintah harus memberikan hukuman yang tagas bagi setiap orang yang merusak lingkungan.

3.    Pembangunan alat pemecah ombak harus segera dilakukan agar abrasi yang terjadi di beberapa daerah tidak bertambah parah.

4.    Bagi para pemilik pabrik maupun usaha apapun yang ada di sekitar pantai agar tidak membuang limbah atau sampah ke laut. Mereka harus menyediakan sarana kebersihan agar limbah atau sampah yang mereka hasilkan tidak mencemari pantai.
Itulah beberapa saran-saran yang dapat kami sampaikan,semoga apa yang telah kami sampaikan dapat menambah pengetahuan bagi masyarakat agar mau menjaga keasrian dan kebersiha lingkungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar